RS Terapung Ksatria Airlangga Siap Sisir Pulau Terpencil Sumenep

Posted in Berita

Share

SURABAYA – Rumah Sakit Terapung (RST) Ksatria Airlangga resmi lepas sandar untuk mengarungi lautan lepas (11/11) sore di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. RS Apung akan berlabuh di gugusan pulau terpencil di Kabupaten Sumenep, Madura, yang masih minim pelayanan fasilitas kesehatan (faskes).

Kapal jenis pinisi dengan dominan warna putih dan garis biru di lambung itu sebelumnya sempat melaksanakan uji coba di Pulau Bawean beberapa waktu lalu. Namun, baru kemarin dirilis secara resmi oleh para alumni Fakultas Kedokteran Unair (Universitas Airlangga) dan jajaran pimpinannya.

Kapal RST tampak gagah ditambah selempang bertuliskan jargonnya yang mulia, yakni "Mengarungi Samudra, Menyelamatkan Anak Bangsa". Para alumni yang terdiri dari beberapa angkatan begitu antusias. Mereka tak hanya berfoto selfie di kapal, mereka juga berkesempatan menaiki RST dan mengamati isi di dalamnya.

Ketua Yayasan Ksatria Medika Airlangga Dr. dr. Christrijogo Sumartono, Sp.An.KAR mengungkapkan RST akan langsung menuju ke sejumlah pulau terpencil di kawasan Kabupaten Sumenep, Madura. Adapun tiga di antaranya ialah Pulau Kangean, Sapudi dan Masalembu.

Pasalnya, pulau tersebut akan kesulitan dijangkau ketika memasuki bulan Desember hingga Januari. Hal ini disebabkan cuaca dan gelombang laut yang kurang bersahabat pada periode tersebut. "Kami ingin mengejar waktu agar tidak kedahuluan cuaca ekstrim," ujarnya.

Menurut dia, operasional RST telah berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat terkait jenis-jenis kasus medis dan tindakan yang akan dilakukan pada pasien setempat. Sehingga perlengkapan medis dan logistik yang dibawa tidak ada yang mubazir atau tidak terpakai. "Kapal kita ini kan sudah dilengkapi dengan kamar operasi untuk jenis operasi dasar atau basic surgery," ujar Christrijogo.

Kendati disebut basic surgery, namun hal ini sudah meliputi tindakan yang banyak dibutuhkan pasien umumnya, seperti operasi usus buntu, hernia, katarak, pemberhentian pendarahan serta persalinan. Semua digarap di atas kapal yang tengah bersandar.

Selama satu kali perjalanan, RST sendiri terdiri dari 5 anak buah kapal (ABK), 7 dokter spesialis dan 4 perawat. Para kru tersebut juga akan berganti pada setiap tujuannya.

Christrijogo menjelaskan, pasien yang hendak dituju ini didominasi oleh penderita penyakit degeneratif. Di antaranya yakni hipertensi, diabetes, penyakit jantung, mata katarak dan lain-lain.

"Kapal ini dilengkapi kamar operasi, kamar perawatan dan fasilitas yang mendukung aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi bagi para pasien," imbuhnya.

Terkait lamanya bersandar, Chris menilai hal ini tentatif. Namun, satu pulaunya bisa saja disinggahi selama tiga hari. "Tergantung jumlah penduduknya atau kasusnya. Misalnya Pulau Sapudi ada 24.000 penduduk, bila kita ambil 30 persennya saja. Maka satu pulau diperkirakan 2-3 hari. Di kawasan sampang paling cepat dua minggu lah," ujarnya

Meski demikian, Chris menegaskan RST tidak hanya sandar, memberikan pengobatan dan pergi begitu saja. Melainkan, RST juga turut membina masyarakat dan faskes setempat untuk menuntaskan masalah kesehatan dan kesenjangan fasilitas medis. "Kita juga ingin membangun sistem. Kita juga turut menjembatani pemerintah setempat untuk memperbaiki fasilitas kesehatan yang mencukupi bagi masyarakat," tandasnya.

Nantinya, RST akan terus menjelajah gugusan pulau lainnya di kawasan Indonesia Timur. Utamanya pulau terpencil yang memiliki keterbatasan untuk akses kesehatan.

"Sesuai anjuran bapak wapres yang sempat kami bertemu, memang RST diutamakan menjelajah Indonesia timur sebagai prioritasnya," ujar spesialis anestesi ini.

Sementara itu. Dekan FK Unair dr Soetojo mengatakan, RST juga dimanfaatkan oleh para dokter spesialis yang telah menuntaskan masa studinya. Melalui program WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis), para dokter diharuskan mengikuti pengabdian kerja masyarakat pulau terpencil bersama RST. Tentunya para dokter spesialis peserta ini akan mendapatkan sertifikat khusus setelah menjalaninya.

"Nantinya para alumni FK Unair dokter spesialis akan kita arahkan untuk turut berperan menjadi tenaga medis di atas RS Terapung Ksatria Airlangga," tegas Soetojo.

Selain itu bagi awak medis RST sedikitnya dibutuhkan dokter spesialis dalam lima jenis, yakni spesialis anestesi, spesialis bedah, spesialis penyakit dalam, spesialis kandungan dan spesialis anak. "Selain menimba banyak pengalaman, para peserta WKDS akan merasakan pengabdian diri sepenuhnya kepada masyarakat yang sebenarnya membutuhkan," tandasnya. (*)


Sumber: http://www.jatimtimes.com/

Web terkait

WEBSITE MANAJEMEN

 

WEBSITE ISU PRIORITAS
CHPMmrs barumanpel2mbiayakes barupenkedokk bencanakiadeskesmutupel2dii