Bontang Nihil Difteria, Warga Diminta Tetap Waspada

Posted in Berita

Share

Diana Nurhayati (kanan), Kepala bidang P2P Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Diskes-KB) Kota Bontang didampingi Adi Permana dan dr Ika Marlina saat ditemui di ruang kerjanya. (ALPIANA/KLIKBONTANG)

 


Wabah penyakit difteria kian memprihatinkan, bahkan berstatus Kasus Luar Biasa (KLB) di Kalimantan Timur. Bontang perlu waspada, meski belum ditemukan warga terindikasi penyakit ini.

 

"Alhamdulillah, sampai saat ini belum ditemukan warga Bontang terkena wabah difteri, meskipun demikian kita tetap harus waspada," jelas Diana Nurhayati, Kepala bidang P2P Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Diskes-KB) Kota Bontang didampingi Adi Permana dan dr Ika Marlina saat ditemui di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Penyakit yang disebabkan bakteri corynebacterium diptheriae ini kata Diana, mudah menular dan mematikan. Penularan paling umum dengan menghirup percikan ludah di udara saat penderita bersin atau batuk. Biasanya, memicu komplikasi masalah pernafasan, kerusakan jantung, kerusakan saraf.

"Saking menularnya, satu satu warga yang terjangkit sudah dinyatakan daerah KLB dan harus segera di isolasi," tambahnya.

Langkah antisipasi pun dilakukan Diskes-KB, salah satunya melaksanakan program imunisasi difteri. Vaksin untuk imunisasi Difteri ada 3 jenis, vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda.

Imunisasi Difteri diberikan melalui iunisasi dasar pada bayi di bawah 1 tahun sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib, kemudian diberikan Imunisasi Lanjutan pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib, murid SD kelas 1 diberikan 1 dosis vaksin DT. "Selepas itu, pada murid kelas 2 diberikan 1 dosis vaksin Td, dan murid kelas 5 diberikan 1 dosis vaksin Td," jelas Diana.

Ke depan, Diskes-KB pun, lanjut Diana berencana memberikan sertifikat kepada anak yang sudah mendapatkan imunisasi lengkap. Tujuannya, memudahkan anak tersebut saat hendak melanjutkan pendidikan keluar negeri.

"Ketika ada anak-anak kita berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan diluar, tidak perlu lagi repot untuk mengurus sertifikat vaksinisasi," pungkas Diana.

Dia pun mengimbau bagi warga Bontang yang akan liburan ke luar daerah, khususnya kawasan berstatus KLB, agar tetap waspada. Sebab, penularan difteri sangat cepat terutama bagi anak-anak belum diimunisasi.

Sedikit informasi, menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pulau Jawa menyandang jumlah kasus terbesar tercatat 474 penderita 26 kematian sampai November 2017. Sedangkan wilayah lain seperti Sumatera 114 kasus 5 kematian, Kalimantan 13 kasus 1 kematian, Sulawesi 11 dan Papua 1 kasus.

11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. (*)


-- http://klikbontang.com/ --

 

Web terkait

WEBSITE MANAJEMEN

 

WEBSITE ISU PRIORITAS
CHPMmrs barumanpel2mbiayakes barupenkedokk bencanakiadeskesmutupel2dii