Fasilitas Layanan Terbatas, Warga Perbatasan Terpaksa Jalan Kaki Berjam-jam untuk Berobat

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

TANJUNG SELOR - Pelayanan dokter terbang melalui program Dokter Spesialis ke Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) menjadi angin segar bagi warga pedalaman di Kaltara. Ketua DPRD Kaltara Utara Marten Sablon mengungkapkan, kehadiran program itu sangat disyukuri masyarakat.

"Saya pernah menyaksikan sendiri bagaimana kesulitan masyarakat pedalaman ketika ada keluarganya yang sakit. Kalau butuh dirujuk, tidak tanggung-tanggung harus sewa pesawat ke kota," kata Marten yang juga putra Kecamatan Krayan, Nunukan ini.

Puskesmas di kecamatan-kecamatan perbatasan belum mampu melayani masyarakat sepenuhnya, sehingga kebanyakan pasien perlu rujukan ke rumah sakit umum daerah. Jika pasien harus ditangani dokter spesialis terpaksa harus diterbangkan ke kota.

Baca: Dokter Terbang Layani Kesehatan Warga Perbatasan, Segini Honor yang Diterima

"Tentu itu akan menambah lagi cost yang dikeluarkan. Karena secara akses di perbatasan pedalaman itu masih sulit, terisolasi. Kalau tidak ada pesawat terbang, atau semacam dokter yang diterbangkannya ke sana, masyarakat tidak bisa dapatkan layanan kesehatan yang bagus," katanya.

Lebih dalam ke desa-desa perbatasan, masyarakat juga bertumpu pada frekuensi penerbangan. Jika desa pedalaman tidak memiliki lapangan terbang, maka harus berjalan kaki berjam-jam menembus ibukota kecamatan hanya untuk berobat.

"Selama ini dokter spesialis di perbatasan belum ada yang tinggal, menetap. Rata-rata dokter umum. Di daerah pedalaman lagi, perawat saja yang ada. Kemudian ada juga puskesmas pembantu yang belum punya dokter," katanya.

Baca: Bocah Korban Bom Oikumene Berjuang Sembuhkan Tangan, Trinity Trauma masih Takut Api

Karena itu, frekuensi pengiriman dokter ke perbatasan dan pedalaman diminta Marten lebih diintensifkan. Jumlah dokter yang dikirim pun diharapkannya makin banyak. Tidak kalah penting, setiap puskesmas harus ada dokter spesialisnya.

Marten mengatakan, keterbatasan infrastruktur memang menjadi kendala utama pelayanan kesehatan di perbatasan. Namun demikian, daya yang dimiliki pemerintah menuntut supaya layanan kesehatan tidak berhenti.

"Sambil mengejar pembangunan infrastruktur, pelayanan kesehatan harus jalan. Sudah ada kan rencana pembelian pesawat N-219. Itu salah satunya supaya mudah membawa tenaga kesehatan ke sana," katanya. (*)


-- http://kaltim.tribunnews.com/ --

Copyright © 2018 Dokter Rural Indonesia.

Search