Klinik Apung Said Tuhuleley sampai ke Pulau Terpencil

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

KOMPAS - Kapal Motor Said Tuhuleley seberat 8 ton berlayar meninggalkan Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, Maluku, menuju Pulau Saparua, Sabtu (25/2) pagi. Kapal berbasis yacht berbiaya Rp 2 miliar itu bukan sembarang kapal. Kapal itu berfungsi sebagai klinik apung yang melayani secara cuma-cuma seluruh rakyat Maluku tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antar-golongan hingga ke pulau terpencil. Hal ini yang membuat selain melayani kesehatan dalam tugas kemanusiaan, kapal ini juga membawa misi penting, yakni merawat kebinekaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nama Said Tuhuleley menjadi istimewa karena merujuk kader Muhammadiyah asal Maluku yang mumpuni dan meninggal pada 9 Juni 2015 dalam usia 62 tahun. Perjalanan pertama klinik apung dari Ambon ke Pulau Saparua (sebelumnya berlayar dari Jakarta ke Ambon) juga bukan tanpa makna. Untuk sebuah pelayaran pertama, klinik apung ini sungguh tepat momen dan sasarannya.

Maluku bagaikan miniatur dari Indonesia sebagai negara maritim, lautan yang bertaburkan pulau. Nama Said pun pantas diabadikan, salah satunya, karena dia mendedikasikan separuh hidupnya bagi tugas kemanusiaan melalui Muhammadiyah. Sejak 2005, Said dipercaya menjadi Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi menyebut Said sebagai sosok yang intens mengimplementasikan tauhid sosial. Melalui MPM, Said memimpin gerakan yang menggumuli dunia buruh, petani, dan nelayan. Bidang yang belum pernah dirambah Muhammadiyah sebelumnya.

" Klinik apung menjawab kebutuhan masyarakat di daerah kepulauan ini," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat mendampingi Presiden Joko Widodo meresmikan klinik apung di Pelabuhan Yos Sudarso, Jumat (24/2).

Layanan negara

Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah Hilman Latief di sela kegiatan Tanwir Muhammadiyah di Gedung Islamic Center, Ambon, menceritakan gagasan pengadaan klinik apung yang dibangun Galangan Yang Ming Marine, Jakarta, selama empat bulan. Muhammadiyah tergerak melayani warga di daerah terpencil yang belum menikmati pelayanan kesehatan secara maksimal dari negara.

Klinik apung cocok untuk Maluku, yang dijuluki "Negeri Seribu Pulau".Namun, satu kapal tentu belum cukup untuk berkeliling Maluku. Ada 1.340 pulau yang tersebar di 11 kabupaten/kota di Maluku. "Pengadaan klinik apung baru pertama kali dilakukan. Menurut rencana, ada 15 kapal lagi khusus untuk pelayanan kesehatan warga di pulau-pulau terpencil," kata Hilman.

Ketersediaan dokter di Maluku baru 6:10.000 orang dari idealnya 11:10.000. Banyak warga sakit tidak bisa tertolong karena jauh dari akses kesehatan. Bahkan, di Kabupaten Maluku Barat Daya, seperti Pulau Liran, Wetar, dan Kisar, banyak warga memilih berobat ke negara tetangga, Timor-Leste, karena lebih dekat.

Selain awak kapal, klinik apung dioperasikan oleh 3 dokter, 5 perawat, dan 1 apoteker. "Pelayanan ini bukan hanya buat warga Muhammadiyah atau umat Islam, melainkan juga untuk semua orang. Pelayanan kesehatan tidak memandang siapa orangnya. Ini adalah misi kemanusiaan," ujar Hilman.

Pemprov Maluku pun menyambut gembira. "Selama ini kami sewa kapal yang sangat mahal," kata Kepala Dinas Kesehatan Maluku Meikyal Pontoh. Ibarat pepatah sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui, lewat klinik apung Said Tuhuleley, Muhammadiyah tidak hanya merawat kesehatan rakyat Maluku, tetapi juga merawat kebinekaan Indonesia. (FRN/IVV)


-- https://nasional.kompas.com/read/2017/02/27/21113851/klinik.apung.said.tuhuleley.sampai.ke.pulau.terpencil --

Copyright © 2018 Dokter Rural Indonesia.

Search