Kuliah Terbuka "Teknologi Komunikasi dan Informasi untuk Kedokteran Rural"

Share

AsaPada Kamis, 4 November 2016 telah diselenggarakan Kuliah Terbuka dengan judul “Teknologi Komunikasi dan Informasi untuk Kedokteran Rural”. Pemateri dalam kuliah ini adalah Åsa Holmner, PhD dari Umeå University, Swedia. Kuliah ini dilaksanakan di Ruang Theater, Lt. 2 Gedung Perpustakaan Fakultas Kedokteran UGM.

Åsa memulai kuliah ini dengan memberikan pelajaran singkat mengenai bahasa Swedia. Pelajaran ini menjadi menarik karena kita dapat mengetahui bagaimana perbedaan penulisan dan pelafalan huruf dalam Bahasa Swedia. 

Setelah itu, Åsa masuk ke dalam topik pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk kedokteran rural. Åsa juga menegaskan bahwa dalam kuliah ini, ia akan secara khusus membahas pemanfaatan telemedicine di daerahnya. 

Penjelasan pertama yang diberikan adalah mengenai negara Swedia. Dengan luas 449.964 km2, Swedia adalah negara terluas ketiga di Uni Eropa yang memiliki total penduduk mencapai 10 juta jiwa. Kepadatan penduduk Swedia adalah 24 orang/km2. Apabila dibandingkan dengan Indonesia, angka ini sangat jauh di bawah tingkat kepadatan penduduk negara kita yang mencapai 140 orang/km2. Selain itu, Åsa juga menjelaskan tentang sistem pelayanan kesehatan di Swedia yang sebagian besar dibiayai oleh pajak. Dampak dari hal ini adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh pasien menjadi cukup kecil. Bahkan pelayanan kesehatan di Swedia digratiskan untuk anak-anak sampai usia 18 tahun. 

Åsa secara khusus menyoroti daerah utara Swedia yang menjadi wilayah kerjanya. Di daerah ini, Västerbotten, terdapat populasi yang mencapai 260.000 jiwa. Dengan jumlah populasi tersebut, Västerbotten memiliki luas wilayah 55.401 km² atau hampir separuh pulau Jawa yang luasnya 128 297 km². Jarak antar sarana pelayanan kesehatan yang jauh di Västerbotten menjadi salah satu tantangan dalam topik diskusi kedokteran rural. Menutup sesi pertamanya, Åsa memberikan 3 pertanyaan kepada para peserta kuliah.  

1.Apa jenis profesi kesehatan yang dapat ditemukan pada area rural di Indonesia?
2.Apa pelayanan kesehatan yang dapat dilakukan dari jarak jauh di Indonesia, dengan menggunakan telemedicine?
3.Menurut Anda, apa tantangan terbesar untuk menerapkan telemedicine pada area rural di Indonesia?    

Sesi-Diskusi

Setelah mendapatkan pertanyaan tersebut, para peserta kuliah mulai berdiskusi. Sesi diskusi berlangsung sangat menarik. Jawaban yang diberikan oleh para peserta menunjukkan pengalaman mereka selama bertugas di daerah. Untuk pertanyaan pertama, profesi yang dapat ditemui antara lain: dokter umum, dokter gigi, perawat, tenaga surveilans, dan apoteker. Beberapa peserta juga menyebutkan bahwa ada profesi di luar profesi kesehatan seperti dukun bayi. Menjawab pertanyaan kedua, pelayanan yang dapat diberikan antara lain: sistem rujukan, konsultasi untuk berbagai macam kasus seperti: kasus kegawat daruratan, perawatan antenatal, atau pembacaan hasil radiologi. Untuk pertanyaan ketiga, beberapa peserta kuliah yang berasal dari luar Indonesia juga memberikan pendapatnya mengenai tantangan penggunaan telemedicine untuk  kedokteran rural. Beberapa diantaranya adalah sikap staf medik, infrastruktur, keterbatasan waktu, tradisi, kebijakan pemerintah, dan keberadaan layanan internet yang memadai untuk mendukung telemedicine.

Menutup sesi diskusi tersebut, Åsa menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan perlu melihat, mendengarkan dan juga melakukan serangkaian pemeriksaan pada pasien. Pertanyaan terbesar dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang kedokteran adalah bagaimana mereplikasi hal tersebut untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik pada pasien.

Åsa kemudian memberikan contoh penggunaan Telemedicine di Västerbotten untuk mengatasi berbagai tantangan dalam kedokteran rural. Teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek mulai dari diagnosis sampai terapi. Dalam bidang terapi, antara lain: konferensi multi disiplin dengan video conference pada pasien kanker, terapi wicara yang bisa dilakukan oleh pasien melalui komputer dari rumah serta fisioterapi yang dapat diikuti pasien dari rumah menggunakan tablet/komputer. Dalam bidang diagnosis, dokter di pusat layanan kesehatan primer menggunakan echocardiography yang kemudian hasilnya dapat langsung dikonsultasikan dengan spesialis dari jarak jauh. Selain itu juga radiology telemedicine yang telah menjadi standar di Swedia.

Åsa lalu menceritakan tentang sebuah tempat bernama community based health rooms yang ada di Swedia. Tempat ini adalah sebuah ruangan yang disediakan di salah satu fasilitas umum, seperti sekolah. Di ruangan ini terdapat alat-alat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara mandiri. Masyarakat bisa datang untuk mengecek kondisi kesehatan mereka sendiri, seperti mengecek tekanan darah atau mengecek kadar gula darah.

Menutup sesi kuliahnya, Åsa menyampaikan hasil survei Telemedicine di Västerbotten. Bantuan yang dibutuhkan oleh klinik untuk meningkatkan kapasitas dalam bidang Telemedicine adalah: dukungan teknis, dukungan administratif, dukungan pendidikan dan pelatihan, serta adanya bukti konkrit manfaat telemedicine (misalnya bermanfaat dalam penghematan anggaran). 

Berikut link materi dan video Kuliah Terbuka "Teknologi Komunikasi dan Informasi untuk Kedokteran Rural"

archive-icon-24

 Materi

Link video

Sesi 1 https://www.youtube.com/watch?v=Sw3EpXigwfY

Sesi 2 https://www.youtube.com/watch?v=MM6GFrcqxMY

Sesi 3 https://www.youtube.com/watch?v=pl-4FQ45ENc

 

Web terkait

WEBSITE MANAJEMEN

 

WEBSITE ISU PRIORITAS
CHPMmrs barumanpel2mbiayakes barupenkedokk bencanakiadeskesmutupel2dii